Rabu, 09 Januari 2019

[OPINI] : Aku Hanya Belajar Menjadi Baik? Benar Kah Kita Belajar?

Assalamu'alaikummmmm ^^

....


Generasi muslim/ah. :)

Alhamdulillah berkesempatan lagi hari ini, Loli bercuap-cuap melalui tulisan, bukan maksud hati menggurui. Astaga! Sungguh tak pantas! Namun ini tuangan kegelisahan dari muslimah akhir zaman yang mungkin diantara teman sekalian mengalami kegelisahan yang sama. Dan sama-sama 'do something' setelah proses berfikir ini. Ye gak?


Sumber : maw_reads


Kalo standup comedy saja kegelisahannya bisa menjadi karya yang menghibur. Semoga kegelisahan ana ini, bisa menjadi investasi di negeri nan kekal.


Pernah dengar ga sih

"Aku ini belum baik, hanya belajar untuk menjadi lebih baik.." atau semisalnya


Pernah ya, insyaAllah.

Kapan hari nih kita menemukan ada yang bilang begini? Atau jangan2 kita yang ngucapin? Saat melakukan kesalahan ga seh salah satu nya?

Saat apa ya (ayo, gaes.. komen dong, contohnya pas momen apa kita denger ada yang ngomong gitu?)

Atau

"Aku memang bukan orang baik koq, cuman belajar jadi baik aja."

Naaaah,

Misal,
Aku ga bisa ngelakuin yang terbaik yang aku bisa dalam hal keta'atan seperti meninggalkan hal-hal mubah yang berbahaya. Terus dengan baper nya aku jawab :

"Aku memang bukan akhwat baeq kwok~~ cuman belajar jadi baeq ajahhh" hasyyyahhhh~ sedot ingus. Wqwqwqwq


Disinilah mulai muncul resah dan gelisah, *Wagelaseh

Benarkah aku belajar jadi (lebih) baik?

Atau jangan-jangan itu cuman jurus 'bela diri' untuk tidak berubah (berisi penuh energi negatif, intinya ga mau berubah,maunya gini-gini aje....)



Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.[1] Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah stimulus dan respons. Oleh karena itu, apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur. (Sumber : Wikipedia)



Dan aku pun tercekat gaes.

Malu rasanya hati ini mengaku menjadi hamba yang hanya "Belajar menjadi baik" tapi nyatanya, berdasarkan definisi belajar itu aku tak termasuk kreteria. 'Menunjukkan perubahan pada perilakunya?

Ada kah perubahan pada ku? Atau kah begini-begini saja?" T.T ㅠㅠ inikah yang dinamakan hijrah mu palsu? Hikshikshiks.. katanya ingin belajar menjadi baik, tapi seberapa teguh kah mendatangi Majelis Ilmu ?

Atau jangan - jangan mengalami halangan sedikit tidak jadi datang?

Datang, tapi tanpa persiapan, dalam keadaan ngantuk, lelah, energi sisa, tidak membawa alat untuk mencatat ilmu, dengan kecepatan bak siput.

Eh, pas nyampe di majelis, lebih sibuk gadget atau malah "bermajelis di dalam majelis" alias ngobrol dengan teman long time no to see you. Ehehehe.. atau enggak terus menerus menguap bahkan ketiduran.

Pas udah selesai langsung kayak cheetah dengan kecepatan turbo, yang tadinya ngantuk langsung seger sapa sana sini..

Astaghfirullah, aku kah itu? T.T ㅠㅠ jadi bagaimana bisa ada hasil? Ada perubahan lebih baik? Ada hati yang lebih mencintai Allah, ada rasa kebahagiaan dalam beribadah dengan terus menambah, ketika tak ada Ilmu mengenai iti semua?

Mungkin karena Ilmu adalah kunci kita dalam beramal shalih, sehingga Belajar menjadi penuh godaan.

Padahal Rasulullah bersabda :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya niscaya Allah akan memberinya pemahaman yang mendalam di dalam agama.”(HR. Bukhari).

Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada dalam kitabnya Al-Adab Al-Islamiyah menegaskan bahwa “ilmu adalah petunjuk amal, maka tidak akan baik suatu amal kecuali dengan ilmu.”

"Apabila Ilmu (Agama) seseorang itu lemah, maka hawa nafsu akan menguasai dirinya." (Ibnu Taimiyah)

Sederhananya, misalkan kita pacaran, karena kita tidak Belajar Ilmu nya bahwa Pacaran itu haram, maka kita akan merasa baik-baik saja pacaran.

Atau misalkan kita tau, ustadz Felix bilang #UdahPutusinAja! Tapi bisa jadi lagi, kita kurang Belajar ilmu nya lalu hawa nafsu kita 'kebelet' pingin pacaran lalu lah kita menyimpulkan 'mengikuti pendapat lain, pendapat ada nya Pacaran Islami" misalnya. Padahal ulama sepakat batasan-batasan yang sangat jelas antara laki-laki dan perempuan dan aktivitas pacaran jelas keharamannya.

Atau, memiliki ilmunya bahwa pacaran itu haram. Tapi, karena kita kurang Belajar Ilmu nya, lalu lah kita menyepelekan dosa pacaran. "Gapapa kali ya, kan cuman pacaran sehat ini, kan cuman pacaran Islami ini." Padahal jelas membawa kepada kebinasaan.



Sangat baik, saat kita menilai diri kita Belum Baik, dan mengaku hanya Belajar Menjadi Baik. Namun hendaknya, kita memenuhi syarat "Belajar" tadi seperti apa. Harus ada perubahan lebih baik lagi. Karena Kehidupan ibarat bersepeda apabila kita berhenti mengayuh berhenti memperbaiki diri, maka kita akan terjatuh.



Seperti kata Imam syafi'i : 



ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل



Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”



Gaes, semoga kita semua dapat menjadi pribadi Pembelajar yang benar-benar belajar. Tulisan ini ku tulis iyanya meneriaki diri sendiri paling nyaring, dan aku bagikan karena aku ingin ke syurga bersama kalian. :)

6 komentar:

  1. Seperti diingatkan karena terkadang suka kepancing ngobrol di tengah majelis. Tq mbak cantik

    BalasHapus
  2. Tulisan ini mrngingatkan banget. Makasih loly buat tulisan pengingat ini. Semoga kitanya ke depan menjadi lebih baik ya.

    BalasHapus
  3. Pengen nangis baca ini, karena berkaca sm diri sendiri. Apa yang sudah kulakukan selama ini. Belajar kah

    BalasHapus
  4. Jleb... Berarti mulai sekarang aku harus bikin pencapaian harian atau mingguan nih soal belajar. Supaya ada outputnya. Tengkyu for reminder ^^

    BalasHapus
  5. hikssss, seperti tertampar membaca ini.
    Kaya pas d sekolah, kayanya sih belajar tapi nyatanya tidak

    semoga kita semua benar-benar menjadi pembelajar yg baik dan benar-benar bisa mendapatkan manfaat dan mengaplikasikannya :D

    BalasHapus
  6. Ibarat ten years challenge lah, apa aja sudah pencapaian yg didapat. Magin baik atau terpuruk. Mudahan kita berataan hasil belajarnya membawa berkah & kada sia-sia di hadapan Allah. Aamiin. Al fatihah.

    BalasHapus