Sabtu, 01 September 2018

Sumbangan Pernikahan, Semoga Tidak Memberatkan



Assalamu'alaykum.. ^^
Selamat minggu berbaperia :p
Sudah mblo, pulang sana, rayu Allah.. ketimbang nontonin keluarga bahagia, pasangan (halal) muda di meja seberang. Hehehe..

Harusnya saya tidur yaa karena besok pagi banget mau ke acara launching komunitas #localguidebanjarmasin, tapi entah kenapa ada *ting gituh tentang sebuah pandangan. Jadi nulis sambil ngelus2 Yuka padahal body udah remuk banget. Ini murni hanya pendapat saya ya, setuju boleh, gak setuju juga boleh. :)

Berat memang, membicarakan sumbangan pernikahan.

Kita yang sederhana ini, dengan pendapatan UMR misalnya. Yah, insyaAllah sanggup saja mengadakan pesta pernikahan selayaknya kayak orang-orang. Misal dengan budget 25-30 juta. Gak ada masalah sama sekali, insyaAllah, apalagi saat itu kita berbagi menyuguhi ratusan undangan keluarga, kerabat, rekan dan teman.

Rame keluarga besar berkumpul, memasak dan melakukan persiapan berhari-hari. Sumbangan beras, sumbangan berupa uang, banyak diterima si empu nya hajat

Namun, saya pribadi menemui kasus-kasus dimana sumbangan pernikahan itu pada akhirnya dianggap oleh keluarga mempelai sebagai hutang.

Sumbangan pernikahan adalah hal yang sangat baik. Sangat sangat baik malah, niat tulus membantu hajat saudara. Disini anggap saja kita dari sisi si penerima sumbangan pernikahan? Apa yang kita fikirkan?

Membalas kebaikan saudara tentunya ya? Iya? Kita pasti sangat ingin membalas kebaikan yang telah mereka berikan. Dan tentunya itu juga merupakan hal yang sangat baik sekali.

Sekarang bayangkan, apabila kita adalah dua mempelai dengan penghasilan UMR, mengadakan resepsi sewajarnya kita. Namun, disini kita menerima banyak sekali sumbangan. Tentu pada saat itu hal itu adalah hal yang membahagiakan.

Sayangnya, dengan gaji UMR itu atau katakanlah pas-pasan. Dengan banyaknya sumbangan pernikahan yang diterima yang pada akhirnya layaknya 'hutang secara inplisit' .. menjadikan amplop pembagian gaji bulanan bertambah, listrik, air, kuota :p, makan, jalan-jalan dan berbakti kepada orangtua, dan amplop sumbangan pernikahan.

Bahtera rumah tangga yang baru saja mulai dikayuh, banyak harus penyesuaian goyang sana-sini, pengenalan, dan berbagai ujian yang harus dihadapi berdua. Apalagi ujian ekonomi (yang sampai sekarang tetap menjadi faktor besar penyumbang angka perceraian di Indonesia khususnya). Dan harus ditambah dengan 'balas budi'.. Jujur saja saya sendiri agak takut sih, kalau-kalau menjadi berkurangnya keberkahan pernikahan. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.

Disini saya sama sekali bukan menentang mengadakan resepsi pernikahan (syar'i), menentang menerima sumbangan, maupunmenentang memberi sumbangan. Tidak sama sekali. Memberi sumbangan pernikahan dengan niat tulus memudahkan hajat saudara tentulah sangat mulia.

Namun tentu kita ingin meminimalisir gelombang yang mungkin menghantam kapal yang baru mengaruhi bahtera rumah tangga ini. Karena hakikatnya kita menginginkan ketenangan dalam pernikahan, right? ;)


Resepsi pernikahan adalah berbagi kebahagiaan.
Tentu semua yang kita kenal ingin kita undang, orang tua kita begitu bahagia seakan setiap bertemu semua orang mereka tak tahan untuk menceritakan wacana baik anak mereka. Tentu hal ini harus menjadi bahan pertimbangan, membahagiakan orang tua. :)

InsyaAllah kita semua hanya ingin, resepsi pernikahan sekali seumur hidup ya. dan hal yang saya tulis malM ini semoga bisa menjadi sebuah pandangan saja. Apakah perlu diantisipasi, ataukah hal yang saya khawatirkan ini insyaAllah tidak akan terjadi pada pernikahan teman-teman. Aamiin, insyaAllah..

Bisa saja mengantisipasi Semisal menanyakan bagaimana pandangan orang tua, keluarga besar tentang sumbangan pernikahan. Apakah mereka terbiasa saling berbalas memberi. Atau tidak hitung berhitung, orang tua tidak akan marah dan kecewa saat kita tak mampu membalas kado yang satimpal kepada kerabat. Hingga akhirnya mereka menjadi terbebani, ambil kewajiban membalas budi tersebut. Dan kita sebagai anak menjadi merasa serba salah, bahkan malu :( atau terhina karena ekonomi setelah menikah tak mampu 'membayar hutang pernikahan'. Semoga hal ini tidak terjadi ya. :)




InsyaAllah, sebagai muslimah kita memahami sebaik-baik wanita ialah yang paling murah maharnya. ^-^

Mahar yang mudah akan membuat pernikahan berkah
Berkah itu adalah bahagia dunia-akhirat baik kaya maupun miskin. Tidak sedikit orang kaya tetapi rumah tangga tidak bahagia dan tidak berkah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺧَﻴْـﺮُ ﺍﻟﻨِّﻜَـﺎﺡِ ﺃَﻳْﺴَـﺮُﻩُ
‘Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’ (HR. Abu Dawud, Al-Irwaa’ (VI/345)
Dalam riwayat Ahmad,
ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻟﻨَّﻜَـﺎﺡِ ﺑَﺮَﻛَﺔً ﺃَﻳَْﺴَﺮُﻩُ ﻣُﺆْﻧَﺔً
“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”
Amirul Mukminin, ‘Umar radhiallahu anhu pernah berkata,
“Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam paling pertama melaksanakannya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih Ibni Majah)
Resepsi dianjurkan sederhana sesuai keadaan, tidak dipaksa apalagi sampai harus berhutang
Dalam hadits dijelaskan, makanan yang paling jelek adalah makanan walimah yang diundang hanya orang kaya saja, orang miskin tidak diundang
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺷَﺮُّ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﻃَﻌَﺎﻡُ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴْﻤَﺔِ، ﻳُﺪْﻋَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺍْﻷَﻏْﻨِﻴَﺎﺀُ ﻭﻳُﺘْﺮَﻙُ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻛِﻴْﻦُ
“Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang.” (HR. Bukhari Muslim) 
(Dakwatuna.com)

Menikah di KUA juga bahagia yaa, mblo.. :p yang penting menikah dengan seseorang yang mencintai kita dan kita pun mencintainya karena Allah. yang penting sah dan berkah. Semoga dipertemukan diwaktu terbaik ya, dibersamakan dua kali, sekali didunia, sekali disurga. :) Aamiin Allahumma Aamiin.

Wassalamu'alaykum~ ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar