Jumat, 10 Agustus 2018

Merdeka Itu Menang Melawan Badai Fikiran




Assalamu'alaykum^^~

Agustus, bulan yang mungkin paling dihafal oleh anak SD sekalipun. Karena sebagai warga negara Indonesia, maka euforia Agustus sebagai bulan kemerdekaan begitu terasa. Bendera merah putih mulai menghiasi sepanjang jalan kan? Atau sudah persiapan mengikuti berbagai lomba?

Nah, @femaleblogger.bjm pun tak mau ketinggalan berpartisipasi menyamarakan hari kemerdakaan dengan mengadakan blog collab bertema kemerdekaan bagi diri kami masing-masing.


Kemerdakaan bagi Lolyyyyy......

Bisa menaklukan badai fikiran.

Aku menyebutnya badai fikiran, seperti badai, petir bersahutan, langit yang menggelap, dan membuat kita dalam perasaan tidak tenang, ketakutan.

Menjadi dewasa tidaklah mudah, mendewasakan diri itu berat setidaknya itulah yang aku fahami sejauh ini. Entah bagaimana kawan-kawan menjadi sedewasa saat ini, apakah melewati banyak masalah, menghadapi berbagai persoalan hidup, pernah dalam posisi salah.

Atau kah sudah dewasa sesuai usianya, manajemen fikiran dan emosi yang bagus, dan mampu berfikir sebagai seorang yang problem solver. Dewasa karena didikan orangtua yang benar, seperti tidak memanjakan, dan mampu membimbing dan menyiapkan anak-anaknya untuk menghadapi dunia secara mandiri dan kuat.

Saya rasa, sehebat apapun orang tua, secerdas apapun anak. InsyaAllah, kekurangan tetap milik semua orang.

Kita melewati episode mendewasakan diri dengan cara yang berbeda-beda. Pepatah tenar mengatakan "pelaut ulung tidak terlahir dari laut yang tenang".

Kita pernah salah langkah, kita pernah melakukan kesalahan. Lalu kita ditempa untuk melewatinya, berfikir keras bagaimanakah kita melanjutkan kisahnya. Lalu Merdeka keluar dari badai dengan gagah berdiri. Perahu yang goncang diterpa ombak, telah mampu dikendalikan entah seberapa berat, yang pasti tak menenggelamkan kita pada keterpurukan. Kita keluar pada langit yang cerah sebagai seorang pemenang.

Sejauh ini yang saya fahami, setidaknya saya bersyukur dari berbagai masalah, kita semakin mengenali diri kita dan mengenali orang-orang. Semakin berhati-hati, mungkin ini kali ya, tanda semakin dewasa kita, karena kita mulai berhati-hati dan berusaha bijaksana dalam mengambil langkah. Think before act!

Kita yang tadinya merasa diri benar, yang bahkan perasaan ini bisa menjangkit pada seseorang yang merasa telah hijrah. Merasa benar, merasa lebih ta'at, lalu pandai bersuudzon kepada sesama. Padahal dengan niat tulus ingin mengajak kepada kebaikan, baca lagi! Astgahfirullah ternyata tersimpan kesombongan disana. Bagaimanakah meneriaki mereka yamg belum hijrah ; Sombong menolak kebenaran sedang yang menyampaikan pun penuh dengan kecongkakan? Sama.

Ada saat dimana kita salah, lalu orang-orang meneriaki kesalahan kita. Bahkan orang-orang disekitar kita memberikan Killing Statement. Atau kita yang terlau sensitif? Berbeda memang cara memandang setiap orang, tergantung sifat dan fikirannya. Ada yang terjatuh dan terpuruk begitu dalam, karena tak mampu menyikapi kritik dan saran. Berbagai fikiran negatif menghantui,

"aku tidak disukai banyak orang.. mereka membenciku.. aku memang tidak baik.."

Pesimis bikin down, rendah diri. Itu aku.

Bak hujan telah deras, pula petir menyambar bersahutan. Perahu terombang ambing hilang kendali, kita sempoyongan karenanya.

Lantas kita merasa sendiri, lalu mulai Allah nampakkan cermin. Kita melihat meriaki meneriaki kita, kita melihat sikap mereka kepada kita. Namun dulu, kita pernah melakukan hal yang sama. Kita seperti bercermin pada masa lalu kita. Bukan, bukan azab. Allah maha penyayang, karena kalau Allah tak sayang maka kita hanya akan sadar saat nyawa di cabut paksa oleh Izrail.

Allah maha pemurah lagi penyayang, kita yang tadi bertanya-tanya penuh kebencian, kenapa kita diperlakukan begini begitu. Namun pada akhirnya yang kita lakukan adalah, mengambil pelajaran.

Bahwa, ternyata aku dulu sesombong itu, aku dulu tidak sehati-hati itu saat berbicaraaku terlalu banyak bicara, padahal pertanggungjawaban di akhirat itu berat. 

Saya rasa itulah salah satu fungsi masalah ; untuk diambil pelajaran sebanyak-banyaknya darinya untuk hari esok yang lebih baik, untuk pribadi yang menjadi lebih dewasa, lebih kuat.

Memahami kekurangan diri, dan mencoba merengkuh,  mencintai diri yang penuh kurang ini. Bahwa No body is Perfect. Kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin, namun salah itu manusiawi.

Kita perlu berjuang mengendalilan diri agar tiap langkah yang kita ambil tak akan menyeret kita ke neraka kelak, justru menjadi pemberat amal kebaikan. Berjuang menanamkan sekuat-kuatnya pada diri, bahwa ; setiap hamba diuji sesuai kemampuannya, kita pasti bisa melewatinya dengan ta'at apabila kita berusaha. *Ntms

Bahwa hati yang maha rapuh ini, agar tak hancur berkeping-keping adalah dengan tidak meletakan pengharapan kepada makhluk. Tidak ada pengharapan yang paling asli, tanpa kepalsuan selain kepada Allah Azza wa jalla.

Semoga kita mampu memaafkan diri kita yang tak sempurna ini. Bersyukur dengan diri, dan memulai untuk bangkit selalu setelah ditumbangkan. Salah perbaiki, Kalah coba lagi. Kalau menyerah, Allah membenci kita.

Semoga kita mampu meraih merdeka kita, remaja-remaja yang sedang berjuang melawan kerasnya hidup menjadi dewasa. ♡

Bertumbuh menjadi pribadi dewasa yang kuat, tegar, pemecah masalah, dan kehadirannya sangat bermanfaat dalam kebaikan. Aamiin Allahumma Aamiin.

6 komentar:

  1. Setujuuu banget, menjadi dewasa itu ternyata perkara yang gak mudah banget. Banyak hal yang harus dipikirkan, hiks. Banyak hal yang jadi pertimbangan. Semoga dengan segala masalah kita menjadi seseorang yang dewasa dalam bertindak. Aamiin

    BalasHapus
  2. Bener banget ka loly, kadang hijrah itu bukan berarti diri lebih baik terkadang kita harus menahan diri agar tidak merasa paling benar karena orang yang belum hijrah belum tentu salah.

    BalasHapus
  3. Setuju syekali mbak, kadang uln aja bingung harus jadi dewasa seperti apa 😭 sulit banar ternyata.

    Bahwa hati yang maha rapuh ini, agar tak hancur berkeping-keping adalah dengan tidak meletakan pengharapan kepada makhluk. Tidak ada pengharapan yang paling asli, tanpa kepalsuan selain kepada Allah Azza wa jalla Ulun suka kata kata ini, semoga nisa selalu di istiqamah kan untuk berbuat baik dan tetap lurus dijalan-Nya Aamiin ❤

    BalasHapus
  4. Pikiran memang harus dikendalikan. Karena kalau tidak, negatif thinking akan menguasai seluruh kehidupan kita. Jika kita terkungkung dengan kesempitan pendapat pribadi, maka dunia juga akan terasa berat dijalani.

    BalasHapus
  5. Bener ya kita itu harus positif thinking, soalnya kalau negatif thinking terus ya hasil nya bakal gitu" aja hihihi

    BalasHapus
  6. Setuju nih. Kebetulan aku kemarin habis nulis quote tentang masalah ini. Menurutku, selama hidup, kita memang selalu harus berperang melawan pikiran kita sendiri yang aku sebut sebagai "the other side of myself'. Semoga aku bisa lekas merdeka.

    BalasHapus