Sabtu, 28 Juli 2018

CATATAN : MENJADI KELUARGA SAMARA PENEGAK SYARI'AH DAN KHILAFAH



Oleh : Ust. M.R Kurnia

#OpiniMuslimahJateng-- Islam mewajibkan setiap Muslim, laki-laki maupun perempuan, untuk menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Menjadikan akidah Islam sebagai asas rumah tangga berarti mendudukkan akidah sebagai penentu tujuan hidup dalam berumah tangga. Akidah Islam menetapkan bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah menggapai ridha Allah Swt. melalui ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada-Nya (QS adz-Dzariyat [51]: 56).

Berdasarkan hal ini, maka orang yang berpegang teguh pada akidah Islam akan senantiasa terikat dengan aturan-aturan Islam, termasuk dalam membangun kehidupan rumah tangga; membina dan menjalaninya. Motivasi dalam berkeluarga adalah semata-mata berharap mendapat ridha-Nya. Keberhasilan materi bukan hal yang utama. Setiap perintah Allah akan dilaksanakan sekalipun berat, penuh rintangan dan halangan, serta tidak terbayang keuntungan materinya. Sebaliknya, semua yang dilarang-Nya akan senantiasa dihindari walaupun menarik hati, menyenangkan, dan menjanjikan kesenangan materi.

Salah satu perintah Allah Swt. kepada suami dan istri adalah dakwah. Perhatikanlah firman Allah Swt. berikut:

]وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ[

Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka melakukan amar makruf nahi mungkar. (QS at-Taubah [9]: 71).

Dalam ayat ini Allah Swt. menyatakan bahwa berdakwah merupakan aktivitas yang menyatu dengan keimanan seseorang, baik laki-laki maupun wanita. Allah Swt. juga berfirman:

]وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ[

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan (Islam) dan melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran [3]: 104).

Ayat ini mengisyaratkan bahwa dakwah bukanlah tanggung jawab seseorang saja, tetapi harus dilakukan secara berjamaah; harus ada sekelompok orang beranggotakan laki-laki maupun perempuan yang mampu menegakkan tujuan dakwah.

Jadi jelas, bahwa dakwah memang wajib dilakukan oleh setiap muslim laki-laki maupun wanita, suami maupun istri. Sekarang, setidaknya separuh jumlah penduduk dunia adalah wanita. Padahal pihak yang layak dan tepat berdakwah di kalangan wanita adalah kaum wanita; ibu dan calon ibu. Apalagi kondisi wanita sekarang telah dijadikan sasaran yang empuk untuk meruntuhkan suatu bangsa.

Dengan demikian, suami dan istri sama-sama meyakini bahwa dakwah merupakan kewajiban mereka. Suami tidak akan menghalang-halangi istrinya berdakwah. Sebab, menghalangi istri berdakwah berarti menghalanginya menunaikan kewajiban. Hal ini sama saja dengan menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebaliknya, istri juga akan meridhai suaminya berdakwah. Suatu kali suaminya kendur dalam dakwah, bersegeralah ia menyemangatinya. Istri bangga memiliki suami sebagai pengemban dakwah, suami pun bangga memiliki istri pengemban dakwah. “Keluarga kami adalah keluarga pengemban dakwah,” begitu jiwanya berkata. Inilah kebahagiaan ideologis.

Mengatasi Problem Keluarga

Hidup berumah tangga bukanlah jalan tol yang tanpa hambatan. Ujian, cobaan, dan hambatan akan datang silih berganti. Hal ini penting selalu disadari oleh setiap pasangan suami-istri.

Sepasang suami-istri akan ingat bahwa ketika mereka menikah berarti dia telah menjawab satu pertanyaan penting dalam hidupnya, “Dengan siapa Anda akan berjuang bersama mengarungi kehidupan demi mencapai ridha Allah dan masuk surga bersama-sama?” Dengan mengingat hal ini maka suami dan istri adalah sahabat satu sama lain. Secara îmâni, suami-istri bukan sekadar bertujuan mencapai kebahagiaan seksual atau status sosial tinggi, melainkan masuk surga bersama-sama. (Lihat: QS az-Zukhruf [43]: 70-71). Rumah tangga yang dibentuknya bukan sembarang rumah tangga, melainkan rumah tangga yang akan diboyong ke surga. Inilah perkara yang senantiasa diingatnya ketika menghadapi persoalan. Karenanya, ketika terjadi guncangan rumah tangga, mereka saling berpegangan, bukan justru saling berlepas tangan. Solusi dan prinsip dalam menyelesaikan persoalan pun senantiasa disandarkan pada akidah dan syariat Islam.

Di antara persoalan yang muncul dalam rumah tangga adalah:

#1. Ketimpangan pemahaman Islam antara suami-istri. Adanya jurang pemahaman sepasang suami-istri dapat menghadapi keguncangan dalam rumah tangga. Dakwah pun akan terganggu. Persoalan ini perlu diselesaikan dengan cara menyamakan persepsi. Caranya adalah berdialog; bukan dialog seperti penguasa dengan rakyat, tetapi dialog antara dua sahabat yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Jika dialog terasa sulit, maka suami akan meminta dan mendorong istrinya mengikuti proses pembinaan. Hal yang sama dilakukan juga oleh istri kepada suaminya. Rasulullah saw. sering berdialog dengan istri-istrinya.

#2. Beban hidup keluarga. Kezaliman penguasa seperti menaikkan harga BBM telah memukul masyarakat, tak terkecuali keluarga pengemban dakwah. Saat menghadapi persoalan ini keluarga Muslim akan menghadapinya dengan penuh kesabaran. Mereka yakin, Allah sajalah Maha Pemberi rezeki; Dialah yang meluaskan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki; Dia pula yang menyempitkan rezeki atas siapa saja yang Dia kehendaki. Keluarga Muslim memandang kaya atau miskin hanyalah cobaan dari Allah, Zat Yang Mahagagah. Hal ini justru mendorong mereka untuk semakin taat kepada Allah Swt. (Lihat: QS al-A‘raf [7]:168). Suami akan terus berusaha mencari nafkah. Istri pun tidak banyak menuntut.

Janganlah mengira Rasulullah hidup penuh kelonggaran. Sudah dimaklumi, Rasulullah saw. hidup dalam kefakiran. Nabi kekasih Allah tersebut dan keluarganya sering tidak kenyang makan selama tiga hari berturut-turut. Hal ini beliau alami hingga pulang ke rahmatullah (HR al-Bukhari dan Muslim). Namun, beliau dan istri-istrinya tetap teguh dalam dakwah Islam.

#3. Masalah prioritas amal suami-istri. Kadangkala suami memprioritaskan agar istrinya mengasuh anak yang sakit, misalnya; sementara istrinya lebih mengutamakan kontak tokoh. Perselisihan pun terjadi. Sebenarnya, penentuan prioritas (al-awlawiyât) harus mengacu pada hukum syariah. Oleh sebab itu, suami dan istri penting memahami kedudukan masing-masing berdasarkan syariah. 

Suami wajib memperlakukan istri dengan baik (ma‘rûf), memberi nafkah, mendidik istri, menjaga kehormatan istri dan keluarga. 

Istri berkewajiban taat kepada suami, menjaga amanat sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt, menjaga kehormatan dan harta suami, meminta izin bepergian kepada suami. Sementara itu, kewajiban bersamanya adalah menjaga iman dan takwa; menjaga senantiasa taat kepada Allah Swt. menghindari maksiat, dan saling mengingatkan.

 Diupayakan, semua kewajiban dikompromikan antara suami dan istri. Jika pada suatu situasi dan kondisi tertentu terjadi bentrokan kepentingan antara peran sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt dan tugas dakwah, sedangkan pemaduan keduanya tidak dapat dilakukan, maka secara syar‘i prioritas yang harus dilakukan adalah kedudukan sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt.

Prinsip Dakwah bisa Sinergis

Ada lagi persoalan lain yang kadangkala muncul. Namun, bagi setiap persoalan yang muncul, inti pemecahan masalahnya adalah:

#1 Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing serta hak dan kewajiban bersama, lalu berupaya mengkompromikannya. Jika tidak bisa, kembali pada awlawiyât berdasarkan hukum syariah.

#2 Membangun komunikasi dan saling pengertian. 
Rasulullah saw. senantiasa berkomunikasi dengan Ibunda Khadijah ra. Beliau bersama istrinya berupaya bersama membincangkan persoalan dakwah. Bahkan, beliau menyempatkan berkomunikasi dan bersenda-gurau dengan istri-istrinya setiap sehabis isya. Setelah itu, barulah beliau menginap di tempat istri yang mendapat giliran. Nabi saw. mencontohkan bahwa komunikasi merupakan persoalan vital dalam rumah tangga. 

Tentu, saat komunikasi bukan melulu persoalan yang berat-berat, melainkan juga terkait dengan persoalan ringan seperti makanan yang enak, foto keluarga, dll.

#3 Saling mendukung sebagai tim dakwah terkecil. 
Dukungan orang-orang terdekat—suami dan istri, anak-anak, orangtua, dan orang-orang yang berada di sekitarnya—langsung atau tidak langsung akan berpengaruh terhadap kesuksesan tim dakwah keluarga. Beban rumah tangga, nafkah, dan dakwah jelas sangat berat. Akan lebih berat lagi jika suami/istri atau keluarga tidak memahami kewajiban ini.
Sebaliknya, semua tugas akan terasa ringan dan menyenangkan, rasa lelah segera hilang jika suami/istri dan keluarga memahami aktivitasnya; mendukung, apalagi turut membantu. Suami dan istri sama-sama memahami bahwa aktivitas tersebut bukan didasari oleh keinginan untuk aktualisasi diri, karir, ataupun untuk persaingan antara suami-istri. Keduanya akan saling menolong dalam beribadah kepada Allah dan berlomba dalam kebaikan. Dengan begitu, akan tercipta sebuah keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah. Bagi Muslimah shalihah, seberat apa pun beban yang harus ditunaikan tidak berarti apa-apa jika dukungan dan ridha suami senantiasa menyertainya. Begitu juga, seorang suami salih akan tetap tersenyum bahagia jika istrinya shalihah dan menopang dakwahnya. Di sinilah peran penting suami-istri saling mendukung dalam menunaikan kewajiban dakwah dari Allah, Zat Yang Mahakuasa. Perlu suami-suami menjadi seperti Nabi saw. dan para sahabat; perlu istri-istri menjadi laksana ummul mukminin dan shahabiyât yang secara harmonis berjuang bersama memperjuangkan Islam.

#4 Pentingnya ukhuwah sesama pengemban dakwah. Dakwah tidak mungkin dilakukan secara individual. Dakwah berjamaah adalah suatu keniscayaan. 

Ukhuwah di antara pengemban dakwah juga terus dipelihara selama mereka berinteraksi. Dengan begitu, satu sama lain akan saling mengenal, saling memahami, dan saling membantu. Masing-masing memahami karakter, kemampuan, kondisi, kendala, serta apa yang dibutuhkan. Tidak akan ada beban yang diberikan di luar kemampuan seseorang atau membuat dia lalai terhadap kewajibannya yang lain. Kalaupun ada kendala pada individu pengemban dakwah bukan langsung disalahkan, tetapi akan diteliti akar permasalahannya dan dicari solusi pemecahannya. Sebuah jamaah dakwah ibarat roda yang berputar. Masing-masing bagian menempati posisi dan fungsi masing-masing; kadang berada di bawah kemudian bergulir ke atas. Demikian halnya dengan seorang pengemban dakwah. Ketika dia sedang diliputi kendala, keadaannya ibarat bagian bawah roda. Saudaranya sigap dan cepat bereaksi untuk membantunya. Jika ini terjadi maka suatu keluarga pengemban dakwah yang tengah mendapatkan kesulitan diringankan oleh saudaranya dari keluarga lain.

Profil Keluarga

Keluarga Nabi saw. adalah keluarga sakinah penegak syariah. Beliau sebagai seorang suami sering bergurau, berbuat makruf, dan lembut terhadap istrinya. Beliaupun sekaligus rasul pejuang Islam. Salah seorang istrinya, Ibunda Khadijah, adalah penopang utama dakwah Nabi saw., beriman pertama kali, membiayai hampir seluruh dakwahnya. Sekalipun demikian, Ibunda Khadijah tetap rendah hati, berakhlak mulia, dan menjaga kesuciannya. Ia juga menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya serta tetap menghormati dan menaati Rasulullah saw. sebagai suaminya. Dari ibu mulia inilah lahir perempuan mulia Fatimah az-Zahra. 
Hidup beliau dilalui dengan penuh kesetiaan dan kebajikan. Sebagaimana yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya. Ia mendampingi Rasulullah saw. dalam suka dan duka perjuangan (Lihat: Akhmad Khalil Jam’ah, Wanita Yang Dijamin Syurga, Darul Falah, Jakarta, 2002, hlm. 16).

Ibunda Khadijahlah yang senantiasa menenangkan ketakutan Nabi saw. Tampaklah, keluarga beliau adalah keluarga sakinah yang pejuang, atau keluarga pejuang yang sakinah.

Profil seperti itu terjadi juga pada keluarga Yasir bin Amir bin Malik. Dia bersama istrinya Sumayyah binti Khubath ra., dan anaknya Amar bin Yasir, termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam. Pasangan suami-istri tersebut berhasil mendidik anaknya menjadi salih. Sang suami amat sayang kepada istri dan anaknya. Semasa hidupnya pun Sumayyah dikenal sebagai seorang istri yang baik, berbakti, dan mengabdi kepada suaminya. Ia bersama suaminya dalam suka dan duka. Mereka bukan hanya sebagai keluarga sakinah, melainkan juga mempertaruhkan nyawanya demi melawan musuh-musuh Islam. Jelas, mereka adalah keluarga sakinah penegak Islam.

Contoh lain adalah keluarga Abu Thalhah. Beliau adalah seorang pejuang dan sahabat dekat Nabi saw. Istrinya bernama Ummu Sulaym binti Milhan ra. Dia adalah seorang perempuan Anshar. Ia termasuh shahabiyah yang utama. Ilmu, pemahaman, keberanian, kemurahan hati, kebersihan, dan keikhlasan bagi Allah dan Rasul terkumpul dalam dirinya. Sebagai ayah dan ibu mereka berhasil. Buktinya, Anas bin Malik yang banyak meriwayatkan hadis itu adalah anak mereka. Hubungan suami-istri pun mesra. Ummu Sulaym senantiasa menyediakan makanan dan minuman, berdandan cantik, bercakap dan bersenda gurau. Sungguh, keluarga mereka bukan hanya pembela Nabi saw., melainkan juga sakinah.

Banyak lagi contoh-contoh profil keluarga sahabat. Intinya, mereka memadukan peran ayah/ibu dan anak, peran suami-istri, dan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, dengan perjuangan Islam. Jika kita hendak menjadi keluarga seperti mereka maka kita mesti menjadi 
‘keluarga sakinah penegak syariah dan Khilafah’.

Wallâhu a‘lam bish-shawâb[].
.
.
.

Catatan : Inginkan Pernikahan Sakinah? Hindari 4 Permainan Ini .


Oleh :  Ustadz Iwan Januar
.
#WadahAspirasiMuslimah_ Bagi Anda yang belum nyadar, pernikahan berbalut sakinah mawaddah wa rahmah bukanlah kiriman dari langit alias datang begitu saja. Ia adalah hadiah terindah dari Allah SWT. bagi pasangan suami istri yang bekerja keras mengendalikan diri, memperbagus akhlak, dan banyak mendekatkan diri pada Allah SWT.
.
Masih banyak pasangan yang tidak mau paham kalau pernikahan yang penuh cinta dan barakah ini adalah hasil usaha. Pasangan seperti ini biasanya hanya berusaha menciptakan pernikahan indah di tahap awal atau pranikah. Mereka pasang kualifikasi yang tinggi untuk mencari pendamping hidup, tapi kemudian lalai merawat pernikahan dan mengendalikan diri masing-masing.
.
Tidak heran meski di antara mereka adalah aktifis dakwah, ahli ibadah, penghafal al-Qur’an, tapi rumah tangganya berprahara. Rutin berkonflik, jarang komunikasi, dan istrinya royal meminta cerai.
.
Percekcokan seperti itu karena biasanya mereka terbiasa ‘memainkan’ lima permainan dalam pernikahan. Mereka menganggap hal itu wajar padahal akhirnya hanya memperburuk hubungan mereka.
.
1. Permainan berhitung
.
‘Kalau si dia begitu, aku akan begini’. Ini permainan yang sering dimainkan pasangan yang rumah tangganya bermasalah. Suami dan istri kerap menghitung-hitung jasa pribadi dan kelakuan pasangannya yang dianggap buruk. Mereka menimbang hubungan dalam pernikahan dengan asas manfaat. Buat apa saya baik pada dia kalau dia tidak baik pada saya.
.
Segera tinggalkan permainan mental macam ini. Rumah tangga bukan jual-beli juga bukan pabrik yang setiap barang ditawarkan atau jasa yang diberikan harus diganjar dengan reward.
.
Pasangan yang kerap memainkan hal ini akan semakin jauh dari sakinah. Bila ingin sakinah mawaddah wa rahmah, landasi relasi dengan si dia dengan ketulusan, memberi dengan keikhlasan.
.
2. Permainan Menang-Menangan
.
Tak ada pernikahan tanpa konflik. Besar maupun kecil. Tapi kalau rumah tangga Anda ingin selamat sampai ke akhirat, jangan pernah tempatkan konflik dengan pasangan dalam permainan menang-menangan. Jadi ketika konflik itu pecah hindari hasrat menyelesaikannya sebagai pemenang dengan mengalahkan ego pasangan. Bila itu dilakukan, berlakulah pepatah; kalah jadi abu, menang jadi arang. Sama-sama binasa, rumah tangga nelangsa.
.
Tahanlah diri untuk menyerang pasangan. Belajar diam dan mendengarkan. Apalagi bila konflik itu disebabkan hal yang tak prinsipil, tak haram di mata Allah, maka mengalah adalah jalan untuk keluar sebagai pemenang bersama.
.
Belajar juga untuk menerima kesalahan karena tidak selamanya posisi kita benar. Dalam keadaan seperti itu mengakui kesalahan adalah jiwa pemenang sebenarnya, pernikahan pun akan terselamatkan.
.
Permainan macam ini cocok untuk adu tangan gunting-batu-kertas anak-anak, bukan untuk orang dewasa yang semestinya belajar untuk bijak dan menerima kebersamaan dalam pernikahan.
.
3. Permainan Petak Umpet
.
Dalam game ini, pemain pertama akan bersembunyi lalu yang lain akan mencari. Dalam pernikahan jangan lari dari persoalan dan membuat pasangan bertanya-tanya dan mencari tahu solusi sendiri. Jawaban atas persoalan dalam pernikahan harus ditemukan bersama, untuk itulah kita hidup bersama dalam sebuah pernikahan.
.
Ada orang yang lebih senang menyembunyikan persoalan ketimbang mencoba untuk mendiskusikannya dengan pasangan. Ada juga yang kemudian melarikan persoalan kepada orang lain seperti orang tua, ini biasanya kaum perempuan.
.
Mulailah belajar untuk sharing persoalan dengan pasangan. Mungkin awalnya tidak nyaman, karena kita terbiasa sharing dengan orang lain. Namun begitu kaki kita menjejak di mahligai pernikahan, menjadikan pasangan sebagai teman diskusi dan bersama-sama mencari solusi menjadi kemestian. Mulailah belajar berkomunikasi yang baik dengan pasangan.
.
4. Permainan ‘Bagi Kue’
.
Seperti anak-anak yang sedang membagi kue, mereka ingin bagiannya sama rata. One for me, one for you. Ini kelihatannya fair. Setiap orang dapat bagian yang seimbang, tapi nanti dulu dalam pernikahan, khususnya bila Anda ingin mendapatkan hubungan pernikahan yang berkualitas.
.
Memang benar dalam pernikahan ada hak dan kewajiban suami istri yang seimbang. Suami dan istri sudah memiliki bagian hak dan kewajiban yang diatur oleh Allah Ta’ala. Firmannya;
Dan para wanita punya hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf (TQS. al-Baqarah: 228).
.
Suami ditetapkan di antaranya sebagai pencari nafkah, istri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Lantas, apakah bila kemudian kewajiban mereka tidak terlaksana, lalu pasangan boleh mengabaikan haknya? Ketika nafkah suami terganggu, maka berkurang pula kewajiban istri melayaninya? Ketika istri sakit dan tak bisa melayani suami, lantas hak mereka – misalnya nafkah – dikurangi suami?
.
Tidak demikian menurut Allah. Suami istri harus tetap bekerja sama dan berkasih sayang sekalipun ada kewajiban di antara mereka yang tidak sempurna. Tidak otomatis ketidaksempurnaan kewajiban seseorang pada pasangannya lalu mengurangi hak mereka.
.
Rumah tangga itu dasarnya adalah keimanan. Seorang suami/istri wajib percaya kalau Allah tidak akan menyia-nyiakan amal soleh seorang hamba pada sesama. Seorang muslim harus yakin bahwa tujuan amal yang utama adalah mardlotillah, bukan balasan dari orang lain.
.
Kemudian, kasih sayang harus menjadi perekat di antara suami istri. Meskipun ada kewajiban yang tak tertunaikan secara sempurna, namun kasih sayang tetap mengikat mereka. Khadijah bin Khuwailid ra. tetap setia, cinta dan menyayangi Rasulullah SAW. sekalipun Khadijah adalah wanita yang jauh lebih kaya ketimbang Rasulullah SAW. bahkan harta Ummul Mukimin Khadijah dinafkahkan habis-habisan untuk perjuangan dakwah Islam. Jadi, pernikahan bukan sekedar bicara hak dan kewajiban, tapi mesti ada kasih sayang dengan keimanan sebagai landasan.
.
jadi, ketika Anda membagi kue pada pasangan, Anda akan mulia di hadapan Allah ketika memberikan banyak bagian pada pasangan Anda. Itulah pernikahan. Itulah cinta.
.
Ingin pernikahan berlimpah sakinah mawaddah wa rahmah? Hindarilah empat permainan ini bersama pasangan.
.

Rabu, 25 Juli 2018

Pengalaman Pertama Ke Barabai, Wisata Pagat, Kandangan

Assalamu'alaykum__ ^^

Kali ini aku ingin berbagi pengalaman pertama ku jalan-jalan ke Barabai dan Kandangan menggunakan sepeda motor. Tanggal 14 Juli 2018 kemarin, aku berangkat bersama Diba, adiknya, Kak Irda, dan suami dari @sahabatcampingbjm. Sebenarnya aku berencana mengajak abah, tapi batal, jadi aku naik motor sendiri mengikuti mereka.



Hari sabtu itu, Alhamdulillah ada job pesanan makanan. Aku membantu mama jadi pramusaji yang manis (tolong jangan muntah membaca kata manis, wkwkwk :p ).. jadi sempet worry takut ngantuk dijalan. Sekitar jam 3 sore kami berangkat dari Banjarmasin menggunakan 3 buah motor. Awalnya ku fikir jaraknya hanya sekitar 112 km, ternyata 172 km. :D :D :D masyaAllah, selalu deh selama perjalanan dalam hati ku "kapan nyampe nya?" "Masih jauh ini". Ternyata jalan yang merupakan wilayah Tapin, Hulu Sungai Selatan sangatlah panjang.


Dengan drama macetnya juga, tapi dibawa enjoy juga sih saat sore sambil naik motor disinari matahari sore, anginnya juga sepoi-sepoi, pasti deh aku buka kaca helm. Sayang banget kalau momen kayak gini dilewatkan, Maka nikmat Tuhanmu mana kah yang kamu dustakan?
Kami sih jalan santai sekitar 40-60 km/jam aja, walau dalam hati pertanyaan kapan nyampe lumayan bergaung, hehe.. karena memang so far aku beberapa kali ke Barabai itu nutup mata aja, aku termasuk yang mabuk perjalanan kalau naik mobil, tidur juga gak bisa karena merasa seperti akan terlempar atau semacamnya jadi tegang sendiri kalau selama perjalanan. gak menikmati.

Sampailah di tugu Ketupat Kandangan, Welcome to Kandangan. Aku fikir Kandangan lebih jauh dari Barabai, ternyata sampai disebuah persimpangan dengan penunjuk arah 40km menuju Barabai.

Kami berhenti untuk sholat Maghrib di Mesjid Al Abrar. Mesjid yang tidak terlalu besar namun unik dan nyaman. Akses masuknya dihiasi bak taman bunga, lalu terdapat juga taman bunga didepan tempat berwudhu yang berada di sisi kanan masjid. Tempat wudhu yang nyaman, karena memiliki tirai penutup sehingga kita bisa berwudhu tanpa takut aurat kita terlihat. Oya, toilet nya juga bersih dan tersedia air minum gratis ala2 di mekkah gitu meskipun masjidnya tergolong kecil. Namun sepertinya hal itu karena mereka memertahankan nilai histori nya yang telah berdiri sejak 1914 M sehingga tidak dilakukan pemugaran untuk memperluas.


Ini adalah Alqur'an yang terdapat di dalam masjid Al Abrar, sayangnya tidak banyak keterangan tentang Alqur'an raksasa ini. :) but, this is the biggest Alqur'an i've ever seen. ♡


Perjalanan dilanjutkan, Ok, baiklah, jadi kita mendaki di Kandangan dan menginapnya ditempat yang lebih jauh, di Barabai. Wkwkwkwk.

Hari mulai gelap, dan jalan minim penerangan, sejauh mata memandang tidak terlihat lagi Indo/Alfa [?].. Hingga sampailah dikota Barabai, rasanya agak nostalgia sama pasar sentralnya karena pernah malam mingguan jalan disana dengan teman-teman akhwat saat menjadi panitia Walimatul Ursy'.

Kami menginap di rumah keluarga kak Irda di sekitar daerah Jembatan Masjid Sulaha. Yeyyyyy,Alhamdulillah, akhirnya sampai juga sekitar jam 9 malam. Dan malam ini kita dapat penginapan gratis. Hehehe. Diba, kita tidur dikasur untuk trip kali ini. :D

Memasak!
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam, mandi, dan masak. Acil dan keluarga yang menampung kami sangat baik, malam begini kita malah disediakan makan besar. Merebus terong & buncis, meggoreng ayam tepung. Bagi ku masak begini lamaaaa banget, tapi pas dikerjain bareng jadi cepat. Apalagi kalau sambil ngerumpi. Bukan gosip, Alhamdulillah karena bersama sahabat shalihah, insyaAllah apa yang kita bicarakan dapat kita ambil hikmah dan ilmunya. Misal cara bikin ayam goreng tepung, ternyata direbus dulu ya, cara baru dan patut dicoba. Sampai ngomongin diet yang intinya perlu istiqomah, mau gimana aja caranya kalau gak istiqomah dietnya bisa balik lagi, balik lagi. Pasti banyak yang setuju ini. Hehehe.. Tapi yang terpenting adalah bahagia dan sehat kata kak Irda, dia itu emang tampil apa adanya banget :D yang penting suami ridho dan senang ya kak.

Cinta sejati itu gitu ya, :D Sahabat yang paling nyaman buat ngapain aja, bersinergi kapanpun, menyamakan langkah dan kita bisa jadi paling apa adanya kita, kita tertawa lepas, merasa bahagia dan paling nyaman bersama dia.

Alah, apa sih. :D #abaikan

Kuy makan deh. Nikmatnya yah udah jam 10 lewat, makan malam terus tidur. Baru juga ngomongin diet, dasar cewek! :p Enaknya tidur dikasur yang empuk ditemani kipas tangan khas kalsel. Ingat nenek, hikshiks.. Tapi rasanya perjalanan tanpa camping itu gak lengkap. Gak ada memmandangi bintang, suasana malam, angin malam. Caelah angin malam, habis itu masuk angin deh. Yang ngerokin pada gak mau, katanya tulang semua. ㅠㅠ

Oh iya, cerita pendakian ke Bukit Langara dan Bukit Palawan ada di sini ya.


Pendakian ke Bukit Langara & Bukit Palawan.


Kami kembali ke Barabai sekitar jam 12 siang, istirahat sebentar menunggu sholat dzuhur untuk kemudian melanjutkan ke destinasi terakhir : Wisata Pagat. Aku makan sebungkus mie instan untuk pengganjal lapar, hehe.. sebungkus mie cuma sebagai pengganjal :p daebak! Jadi bukan Okky Jelly drink apalagi cuman ngemil Roma Sari Gandum ya.

Saat di pasar di pusat kota Barabai tadi, penunjuk arah mengatakan ke arah jembatan masjid sulaha ini 7 km menuju Wisata Pagat. Searah dengan rumah yang kami singgahi, jadi hanya beberapa menit kami sudah sampai di wisata pagat yang ternyata aku sudah pernah kesini. Gue lupa cuyyy.. wkwkwkwk

Tapi kalau sekarang, tempat ini dikelola lebih baik dan saat kami kesana sangat ramai. Loket masuk, 5.000/orang ya. Lalu setiap jembatan kita akan dikenakan biaya 5.000/orang untuk pulang pergi menyebrang ke gua. Satu jembatan kayu, dan dua jembatan rakitan dari bambu. Kami memang juga sempat membayar, tapi kalau difikir-fikir lagi kayaknya gak harus juga sih menyebrang dan sungainya juga paling selutut dalamnya. Hehe.. Sempat ke depan gua, sejuukkkk banget angin yang keluar dari gua tapi karena banyak orang kami memutuskan menyebrang kembali dan memilih ujung kiri tempat wisata ini dimana lebih banyak bebatuan dan menciptakan arus, yang pastinya sepi dari pengunjung lain.

Nyebuurrr deh.
Siang-siang gini, mandi. Hehe.. Jadi ingat masa kecil di desa (Anjir) kalo sudah bemandian (bermain air dengan cara berenang disungai) lupa waktu, dalas bekuridak awak. Aku cuman mandi sebentar, karena aku harus menyimpan tenaga. Cuyy, habis ini kita naik motor 172km lagi. Nontonin si Iky aja deh berenang bikin video didalam air. Rencana awal cuma sampai jam 2 disini, gak taunya sampai jam 3 lebih karena keasyikan, hijab ku aja sampe kering nunggu mereka puas main air nya.


Jembatan di objek Wisata Pagat

Dan, sempet-sempetnya saat dijalan ingin keluar lokasi wisata mereka berhenti lagi untuk makan pentol. Aku memang gak terlalu hobi sih beli pentol, tapi kali ini pamannya juga menyediakan makanan favorit ku, tahu bacem. Enak banget, karena aku sering bikin itu suka gagal hasilnya tahunya tetap lemah. Diseberang kami ada juga kakek-kakek yang jualan es tapi sambil menunggu pembeli beliau membuat seperti alat untuk menjala ikan. Salut, kek.



Bayar parkir motor 3.000/motor, kembali menuju rumah persinggahan kami. Untungnya kakaknya kak Irda peka banget nyediain makan. :D tau aja kami perlu tenaga untuk pulang ke Banjarmasin. Jazakallahu khoyron..

Sekitar jam 5 kami berangkat, dengan rute berbeda karena teman-teman membeli oleh-oleh. Sebenarnya di Barabai ini aku punya keluarga di daerah jatuh, asyiknya nama daerahnya, ini adalah kampung halaman nenek. Tapi pertanyaannya, "memang mereka tau sama aku?" Hehe.. sangking aku memang jarang banget ke sini.

Sejuk dan indah banget menyisiri kota Barabai sore itu. :) Alhamdulillah bahagia banget akhirnya bisa jalan-jalan kesini. Gas santai cus Banjarmasin. Kan, yang lain pada ngantuk-ngantuk sampai berhenti buat beli kopi. Soalnya kami memang gak pake tidur siang barang sebentar. Juga berhenti untuk sholat maghrib dan Isya, aku lupa nama masjidnya, namun uniknya disediakan sebuah penampungan air untuk berwudhu yang sangat luas bak kolam renang. Yang pastinya insyaAllah lebih dari dua kulah apalagi airnya terus mengalir. Tapi tetap tidak bisa untuk berwudhu wanita ya karena ditempat terbuka.

Sekitar jam 9 malam kami istirahat di alun-alun martapura. Dan ini status yang aku update di inststory. >< aku tipe bayg*n gitu :p wkwkwkwk..



Akhirnya sampai rumah sekitar jam 11 malam. Alhamdulillah selesai sudah perjalanan kali ini, :D meski kak Irda masih dibuat penasaran sama puncak Langara. Sampe-sampe beliau masih ngomongin kalo mau kesana lagi. Yaampun rasanya body ku masih perlu dibenerin, dan Kak Irda ngomong pingin balik ke sana. Tapi setuju sih, kuy kita taklukin puncaknya, diajakin nginapnya dimesjid terdekat aja, biar bisa lebih pagian ya ka sampai dipuncak, biar dapat sejuk-sejuk dan kabut lagi tebal-tebalnya. Owwww~ cant wait.

Selasa, 24 Juli 2018

Mendaki Bukit Langara - Bukit Palawan


Bukit Kentawan, dari puncak Langara


Jam 04 a.m

Kami berangkat menuju Bukit Langara, Kandangan. Rasanya kayak Uji nyali. Sepanjang jalan minim penerangan, apalagi saat memasuki jalan daerah BIHI. Karena sudah mulai turun naik bukit yang bahkan masih jarang ada rumah. Untung hafal do'a Ayat Kursi :D :D bukan apa2, ini aku aja yang gak ada boncengan, gimana gak serem membelah wilayah hutan [?] Untung gak ada penumpang ghoib.

Eh, eh, berangkat jam segitu, sebagai yang paling tidak berdaging diantara mereka. Aku akhirnya punya solusi, bukan Selimut ya, aduh rasanya kalau bawa selimut itu gak seru, gak kaya penjelajah gitu loh. Jadi, aku melapis dua pakaian ku, dari kerudung, jilbab (jubah syar'i), hingga kaos kaki. Wkwkwk.. Head to toe :D :D

Kami berhenti di sebuah masjid untuk sholat subuh, dan gak lupa aku pakai tameng wajah >< Lol! But, i wanna say, It's me.. Jadi bahan perdebatan temen-temen,
Loly itu 
feminim atau tomboy sih.? Wdyt? >< :pYang pasti aku emang lagi jadi pejuang Acne Prone skin yaa, jadi kulit ku memang perlu perawatan dan perlindungan Xtra. :) Semoga tahun ini sukses recovery kulitnya, dan aku bisa tampil barefaced kaya @putrimarino


Apah? Kamu pingin mirip aku? :p lol


atau @nadinelist deh. Wkwkwk ngayal :D :D mereka mah emang udah cantik biarpun tampil barefaced. Biar nanti bisa tinggal pakai Wardah Sunscreen kalo lagi kegiatan outdoor, dan dilembabkan dengan Wardah Aloevera gel. Sekalian tips juga #SunCareAlaWardah ya. :D cus lanjuttt.

 Kali ini, aku kurang persiapan karena memang sedang sibuk jadi gak ada menyiapkan bekal. Kami membeli sarapan di sebuah warung dekat masjid tadi. Berkomunikasi dengan penduduk asli Barabai, asik juga, berbeda logatnya sangat terasa. Hehe.. saya fikir saya ini sudah seperti orang Pahuluan banar karena sering sekali menggunakan imbuhan Lih. tapi ternyata logat saya gak ada apa-apanya. :D ok fix, saya itu menggunakan logat orang Anjir. Hehe..

Kami membeli nasi kuning dengan lauk ayam untuk dimakan sambil menikmati Sunrise diatas bukit nanti. Nasi bungkus ini hanya seharga, 6.000/bungkus. Murah yaa :)

Perjalanan menuju bukit langara, Kandangan, sambil menikmati suasana subuh dijalan perbukitan yang mulai disinari matahari terbit. Segarnya. :) MasyaAllah Tabarakallah. Banyak motor dengan keranjang dibelakang, entah untuk menjajakan sayur maupun berjual beli ayam. :D kecungulan kepala ayam yang masih hidup dikandang yang dibawa menggunakan kendaraan.
Sampailah kami dipersimpangan, kalau lurus menuju loksado sekitar 1 jam perjalanan lagi, belok kanan, tepat setelah menyebrang jembatan adalah loket masuk ke bukit langara. Hanya ada tulisan "BUKIT LANGARA" yang ditulis menggunakan pilox sebagai penanda. Kita diminta membayar 5.000 rupiah untuk satu buah motor, dan 5.000 rupiah perorang.

Ini adalah kali pertama mendaki di pagi hari. Menurutku, ini yang ter-extreme diantara bukit-bukit sebelumnya. Sangat curam sepanjang trek melalui bebatuan, dan tanah merah. Kalau estimasi mendaki kata kak Irda adalah 1 Jam, kami bisa selesai sekitar 20 menit saja. Itu pun selalu istirahat setiap beberapa langkah. Mungkin estimasi itu sebelum jalur nya di permudah seperti sekarang. Namun masih sangat curam dan berbahaya, karena kalau sampai jatuh maka jatuhnya bisa-bisa kebebatuan. Pokoknya jalan terus pantang melihat ke belakang, puyeng. Ini yang aku suka dari mendaki, kita fokus melangkah ke depan, dan tidak melihat ke belakang, karena mengerti bahayanya melihat ke belakang. Kehidupan juga gitu, bahaya terlalu sering melihat ke belakang. #eaaaa

Kami akhirnya mencapai sebuah batu besar yang sangat tinggi. Kami fikir ya sudah itu puncaknya. Matahari belum sepenuhnya muncul sekitar jam setengah 7 pagi. Duduk diatas batu itu, sambil foto-foto dan menikmati matahari yang malu-malu mulai muncul di balik bukit. Momen yang aku impikan, dimana banyak kabut yang masih menyelimuti perbukitan. Walaupun sebenarnya ini belum the best moment ya, andai lebih pagi lagi pas cahaya matahari memang belum ada, dan kabutnya benar-benar masih tebal.








Kami makan diatas batu besar itu. Kalau difikir-fikir padahal sangat bahaya melihat ke bawah sangat tinggi. Tapi koq tenang-tenang aja ya kami? :D Aapalagi kami bersama #pedakicilik yqng baru kelas 5 SD. Cuman dia memang mandiri sih, tidak menyusahkan maksudnya gak pernah ngeluh apalagi mewek. Great job, lil boy!

Walaupun dia sempet berbisik sama kakaknya, Diba. "Kak aku capek banget, tapi kalo aku ngeluh nanti aku gak diajak lagi." Hehe..

Selesai makan, ternyata nasi bungkus tadi gak cukup mengenyangkan. >< gak tau deh yang lain, pada kenyang gak? aku sendiri mungkin 2 bungkus baru kenyang. Porsi kuli kali ya kalau sudah tenaga terkuras mendaki gini. Cuaca sudah mulai terik, matahari sudah sepenuhnya menyinari. kami memutuskan untuk menyudahi trip bukit langara, berjalan menuruni bukit kembali. Pas sampai di bawah, eh si #pendakicilik Iky sakit perut untung ada wc ky. :p duduk dibawah pohon dekat loket masuk.

Dan disitulah, sebuah teka-teki terjawab. Motor siapa yang terparkir lebih dulu sebelum kita? Kata penjaga loket ada yang mendaki tapi kami tidak bertemu siapa-siapa diatas. Seorang cowok turun dari bukit itu beberapa saat setelah kami.

Kalian mendaki? Koq gak ketemu diatas dia bilang? WHATTTT? Jadi kami, ternyata : BELUM SAMPAI DIPUNCAK LANGARA. :D :D :D

yas. Setelah batu besar yang kami dudukin tadi, ada seperti lorong dari pohon yang gak kelihatan ada apa setelahnya. Kami gak ada yang kefikiran buat nembus lorong itu. Tapi bertanya-tanya juga sih, koq agak beda sama hasil foto teman-teman yang berfoto di puncak Langara. Kekekekk..

Tapi kami memilih melanjutkan perjalanan, ketimbang naik kembali. Sudah mulai terik juga. Diperjalanan ke arah pulang, kak Irda tiba-tiba punya ide untuk mendaki sebuah bukit wisata yang kami lalui. Sempat kesulitan mencari bukit itu, tau namanya saja tidak. Hanya saja dari kejauhan terlihat ada sebuah bukit yang dipuncaknya ada berwarna-warni sepertinya merupakan spot foto objek wisata.

Beberapa kali bolak - balik nyari pintu masuk ke bukit tersebut. Akhirnya ada bapak-bapak yang ramai mengucapkan seperti kenek angkot "bukit palawan.. bukit palawan.." kata mereka duduk di pinggir jalan. Akhirnya ketemu pintu masuk bukit itu ada di SDN Desa Mawangi. Hanya saja belum terlalu jelas penanda bahwa disana adalah pintu masuk menuju objek wisata bukit Palawan.

Kami bayar parkir 5.000/orang, Alhamdulillahnya disini motor kita ditutupin kardus ya,gak kepanasan. Saat mulai berjalan menuju trek pendakian, kami bertemu seorang nenek yang menyapa kami ramah.

Berawal dari jalan setapak yang rimbun pepohonan, kemudian memasuki gerbang Bukit Palawan. Jalurnya mulai berubah menjadi tanah gembur, lumayan jauh dan curam. Selalu curam ya. >< namanya juga mendaki bukit.. lumayan terik, euy, keringatan dihidung pulak, apa gak bisa berenti ya, keringatan di idung nya. ;(

Sesampainya diatas. Yaelah. Enak ya, tinggal nulis. Awal mendaki, terus langsung aje gitu nyampe di atas. Padahal jalaninnya, perlu waktu, tenaga, kadang tegang, gugup juga, lucu juga. Pokoknya, aku sendiri masih gak berani dokumentasiin saat mendaki, mending konsen ke jalan aja demi keselamatan. Jadi buat yang mau rasain sensasinya ya, langsung cus aja cobain mendaki itu gimana sih? Kalau mau gabung trip selanjutnya, :) kepoin @sahabatcampingbjm yaa .. biar gak ketinggalan, dan kada tekaji habar haja





Jadi saat diatas, di sisi kiri ada warung tempat untuk beristirahat. asyiknya, Acil (bibi) warungnya memasak menggunakan Dapur (alat memasak khas kalsel yang terbuat dari tanah liat). Aromanya khas banget loh, karena menggunakan kayu bakar. Di sisi ini hanya ada beberapa spot foto, seperti sarang burung, sayap kupi-kupu. Nah,yang kami liat dari jalan tadi ada di sisi kanan. Berjalan sedikit lebih jauh ke kanan kita akan menemukan spot foto yang bagus-bagus. Kursi cinta, walaupun Kadeda jua cintanya.. wkwkwk :p helikopter, ayunan, bahkan rumah belanda, dan becak. Asyik banget. Sayangnya, saat itu panas banget. Rasanya, Sawo ini makin busuk ajah.. ㅠㅠ



Masih ku sisakan kursi sebelahnya, agar kelak kita bisa berdampingan
Saat aku berani berkata siap, dan memilih kamu yang aku percaya akan setia menggenggam tanganku hingga ke syurga.
#hasyahh kibas kerudung ><


Ini replika balon udara tapi kepotong, penasaran bentuk aslinya kuy datengin aja ^~
Duduk disini menyaksikan matahari terbenam ditemani secangkir kopi bersama kamu sepertinya indah. :)




Mungkin ini ceritanya pintu dari langit untuk bidadari turun. Tapi gak tau gimana angle fotonya biar dapet. :p

Langit yang cerah untuk jiwa yang sepi. -Peterpan-
Apa ceritanya ini becak tetiba ada di atas bukit :p

Ini masih ada beberapa spot foto yang aku skip, jadi untuk kalian yang mau kesini siapin gaya yang #epic deh buat foto disini biar gak kehabisan gaya kayak aku. ><

Sepertinya disini bisa untuk berkemah, ada bekas api unggun dari yang berkemah. Tapi tidak ada aliran listrik dan warung pun tidak berjualan saat malam. Baiknya, disini ada wc umumnya gak pake bayar, hanya infaq sukarela kata Diba. Dan tau gak sih, gokil nya, nenek yang menyapa kami di bawah tadi beliau ada di atas sini juga berjualan. MasyaAllah Tabarakallah, nenek. :D :*
Ini dia si strong grandma ♡


kuat banget sih nek >< lol aku mah! Neneknya kuat bingit, terus kami minta informasi jalur khusus yang dilewatin si nenek koq bisa sampe di atas cepet banget. Tapi pas dicobain, duhhhh~~~ aku hampir kepleset karena tanahnya gembur pas aku injek ancur. ㅠㅠ

Selesai sudah pendakian hari ini. Diluar rencana sebenarnya mendaki Bukit Palawan, gak nyangka mendaki dua bukit sekaligus gimana ya nanti pas nyampe rumah. Semoga si Iky masih ingat kalau besok dia harus masuk pagi-pagi banget buat dapat kursi paling depan. Hehehe..




Jumat, 06 Juli 2018

Pakaian Renang Yang Nyaman Untuk Muslimah Berhijab Syar'i

Assalamu'alaykum.. ^^



Muslimah, suka berenang? Biasanya pakai pakaian seperti apa? Apa? Pakaian renang?

Faham zaman now ini, katanya pakai pakaian menyesuaikan tempat. Di kolam renang, di pantai ya sah-sah saja mengenakan bikini. Karena hijab syar'i itu cocoknya dipakai ke pengajian. Padahal pantai, laut dan semesta alam ini kepemilikan Allah. Allah melihat dimana saja kita, bermaksiyat kah kita, Allah maha tahu. Dan urusan menutup aurat sudah jelas sebenarnya rambu-rambunya didalam Islam.

Teknik Belajar Renang, Sekali Coba Langsung Bisa

Assalamu'alaykum..^^

Siapa disini yang sudah dewasa namun tidak bisa berenang? Sama, saya juga. Dari kecil saya suka berenang, hanya saja menurut saya belajar berenang itu sulit. Sehingga saya selalu memakai pelampung untuk menikmati hobi berenang. Sekalipun mencoba mendengarkan intruksi teman-teman agar bisa berenang, saya selalu panik setiap mencoba dan gagal.

Kamis, 05 Juli 2018