Minggu, 14 Januari 2018

Umi Diwanti sharing menulis

Hari ini rasanya waktu berlalu dengan cepat.
Umi Diwanti itu hanya sebuah nama yang tak ku perhatikan di facebook ku. Hingga beliau membagikan tawaran acara kopdar SMUP [Sharing Menulis Untuk Peradaban] yang dilaksanakan di Banjarbaru, Kalsel, 14 Januari 2018. Aku tertarik bergabung, karena aku seorang blogger acak adul yang perlu sekali belajar kepenulisan. Mungkin saja aku bisa naik cetak, atau pemikiranku di terbitkan online oleh media resmi.
Semua peserta hadir, sepertinya baru kali ini terjadi. Dari SMUP #1 yang berjumlah sekitar 5 orang, hingga sekarang 46 orang. Luar biasa!

Dari jam 08.30 kami sudah memulai dengan testimoni dari para penulis lokal Banjarmasin, sebagian namanya saya kenal sekali. Orang-orang hebat nan inspiratif ada disekitarku. Tinggal akulah, apakah hendak tertular atau tak mengambil ilmu dari mereka. Rata-rata dari mereka, bahkan umi sendiri bukanlah orang yang sedari dulu gemar menulis. Namun, pandangan-pandangan dan pemikiran yang terus berontak untuk disebarkan. Mengangkat jari jemari mereka merangkai kata. Bukan karena bakat, tapi usaha yang tidak dalam waktu singkat. Membuat mereka kaya akan kosa kata, berbagai kendala pun sudah mulai fasih mereka lewati.
Sungguh menginspirasi, emak-emak militan. Hanya dengan ponsel pintar, sambil mengurus anak, dalam perjalanan, saat menunggu. Mereka tetap menulis, sebait dua bait, paragraf demi paragraf. Hingga tulisan mereka menarik hati redaktur, tembuslah pemikiran-pemikiran mereka yang mengusung ideologi Islam ini bahkan di media-media umum. MasyaAllah, mereka tengah melawan sekulerisme media mengetuk pintu hati peberbit.
Membakar semangat ku yang sekarang hanya bermodal android. InsyaAllah kalau mardhotillah, semua akan terasa lebih mudah. Kendala pun jadi pahala.
Umi berkali-kali mengingatkan agar meluruskan niat. Bahwa kita menulis karena Allah, karena saat kita meninggal, maka tulisan kitalah yang tertinggal. Tulisan seperti apakah yang hendak kita tinggalkan didunia ini?
Menulis jangan takut salah, kalau tidak, orang salah yang akan bertebaran tulisannya. -umi diwanti-
Bunda sholeh pun mengirimkan video, disertai gemericik sholeh yang menahan tawa. Hehe..
Kata beliau yang penting percaya diri, memahami kalau menulis adalah kebutuhan, sebagai sebuah amal, dan ladang dakwah. Dimana kita menyampaikan ide-ide islam kepada dunia lewat tulisan. Dan yang terpenting jangan di tunda-tunda.
Acara dilanjutkan bersama Umi Diwanti yang berbagi ilmu serta pengalaman beliau menakhlukan media mainstream maupun media islam. Yang sangat penting adalah ide islam disampaikan tak terlalu vulgar, pelan saja tapi pembaca dapat sepakat dengan opini yang hendak kita utarakan.
Awalnya aku sakit kepala sih, tapi masyaAllah, materi hari ini bikin aku melek seharian. Sepertinya, aku memang menyukai menulis. Alhamdulillah aku mulai menemui apa yang aku sukai, tinggal aku kembangkan semoga bisa berkontribusi untuk peradaban Islam yang gemilang.
Siang-siang setelah makan loh, enak banget buat qoilullah, boci satu-dua jam. Eits! Bukan sunnah kalo selama itu -_- hari ini, malah harus praktek menulis setelah setengah hari dijejali pengalaman, ilmu, dan tanya jawab.
Tapi Alhamdulillah, aku gak tidur atau sakit kepala. Dan tulisanku pun berhasil ku selesaikan. Aku akhirnya ngerti, kalau aku harus menulis sambil ngomong apa yang mau aku tulis. Berisik sih, maaf ya teman-teman. Hehe.. seperti kata umi, buat senyaman mungkin kondisi saat menulis.
Aku fikir, kegiatan ini akan berakhir setelah acara hari ini. Tapi masyaAllah ternyata mentoring ini terus berlanjut. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan ummi.  Setelah acara berakhir seisi grup seperti nya tengah terbakar, chat terus saja bersahutan. Tulisan-tulisan opini terus masuk di grup. Umi yang seharian berbicara pun masih harus membaca dan memberikan saran.
Jadi, memberikan ulasan seperti insyaAllah tak ada apa-apa nya sama sekali dibandingkan perjuangan beliau. Hari ini, waktu berjalan begitu singkat. Terimakasih Umi Diwanti berbagi ilmu dan pengalaman yang mahal kepada kami. Dari yang tadi, umi adalah teman facebook saya, kini menjadi sosok yang begitu inspiratif bagi saya.
Semoga kami bisa menajamkan pena, dan menulis untuk peradaban sesuai dengan Whatsapp group yang umi bina ini. Aamiin, Allahumma Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar