Rabu, 10 Januari 2018

Hiburan yang melelahkan atau kedekatan pada Rabb yang berkah

Lagi heboh, duo komedian yang berani menggunakan jurus black comedy dengan bahan utama : Agama Islam. Mungkin sangking mereka berusaha menghibur pemirsah, hingga kebablasan atau mencari uang didunia hiburan semakin susah kalau tak berani menyentil hal yang lagi sensitif.
Hiburan.
Hal ini tidak jauh dari stigma yang dibuat oleh media televisi bahwa "mereka memberikan hiburan diantara penatnya kita terutama yang bekerja."
Menimbulkan tanda tanya bagiku, "seberapa lelahnya sih kita?" Dari pagi hingga malam kita sibuk menyaksikan mereka menghibur kita. Pagi acara musik, kemudian FTV, kemudian gosip, FTV lagi, gosip lagi, acara musik lagi, film hingga tengah malam.

Ada yang aneh dengan stigma yang ditanamkan dimasyarakat. Sudahlah sibuk mengejar dunia, pun lelahnya diisi dengan hiburan. Kalau dulu, hiburan, terutama lawakan saya menikmati seperti OVJ. memang saya akui : Sule, Andre, Parto, adalah para penghibur yang cerdas, so far. Materi lawakan mereka seringnya berbobot, dan mengena.
Makin kesini, Indonesia semakin memanas, sebenarnya memang dari dulu penghina Islam itu selalu ada. Hanya saja, beberapa waktu ini, sosok-sosok yang merupakan figuritas, semakin banyak yang keseleo lidah-nya. Atau memang karena kebodohan mereka. Sehingga membakar amarah ummat Islam, apalagi sikap hukum yang memanjakan mereka. Memecah belah ummat, satu membela agama Islam, dan yang lain, menganggap bahwa sikap membela agama ini adalah berlebihan dan mengusik ketenangan. Siapa yang mengusik kedamaian Indonesia? Dari kronologinya harusnya kita sudah tau jawabannya.
Mungkin, mereka (penghina Islam) merasa keren, different, dan sangat toleransi saat menghina Islam?
Sepertinya, menjadi different (berbeda) itu menjadi ajang menyalurkan naluri alami, eksistensi diri. Itulah pentingnya menemukan makna hidup, sebelum memilih ingin menjadi berbeda yang seperti apa.
---
Mantra "kita butuh dihibur" Jangan sampai membuat kita terbuai generasi muda, melemahkan diri. Bahwa kita generasi yang sangat lelah, yang sangat butuh dihibur. Hingga kita lupa, bahwa generasi muda palestina menghabiskan hari-hari nya berjuang untuk kebebasan Al aqsha. Kita lupa, betapa banyak mereka yang hidup menderita, tak seberuntung kita.
Hiburan itu melelahkan__
Banyak tertawa dapat menyebabkan mati nya hati. Pesan cinta dari yang patutnya kita renungi saat ini, khususon remaja zaman now. Hakikatnya terlalu banyak bersenang-senang itu melelahkan. Lelah fisik pun juga lelah hati. Melenakan generasi muda, hingga hilanglah waktu emas nya yang seharusnya memahami bagaimana mengarungi kehidupan dengan benar, bagaimana meraih mimpi. Tergantikan dengan dunia malam, hiburan malam, genk motor, sex bebas, padahal sih yang dicontohin di tipi mah cuman pelukan yah, tapi didunia nyata banyak yang kelewatan. Kan udah dibilang sama Empu-Nya kehidupan, Allah Azza wa zalla : Jangan dekati zina.
Tapi sihir media, mampu membuat yang sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi bukit. Gak papa kali ya, gak papa kali ya, akhirnya kebablasan.
Lelah menghadapi kehidupan itu memang ada. Tidak bisa dipungkiri. Remaja dalam kehidupan kapitalisme, orang tua yang selalu bertengkar, perceraian, perselingkuhan, ambisi berlebihan pada nilai rapor, kesulitan ekonomi. Berat memang yang kita hadapi saat ini, tapi menghibur diri dengan kesia-siaan bukanlah hal yang tepat.
Menghibur diri tidak salah, yang penting tau aturan main. Tidak sampai kehilangan masa depan.
Yang pasti aturan main itu bukan yang dicontohin sinetron di tipi, atau pandangan masyarakat. Kebenaran itu hanya milik Allah dan akhirat adalah kekal, kita akan kembali kepada Allah, maka ambil lah dari hukum Islam. Agar hidup tidak salah jalan, dan berujung neraka.
Rasulullah dan para sahabat adalah contoh nyata, kehidupan ideal nan membahagiakan terlepas bagaimanapun perjuangan mereka dalam menegakkan Islam. Mereka bercanda, namun tak berbohong. Mereka tak menghina hanya untuk meukir tawa orang-orang disekitarnya. Merekalah yang harusnya menjadi contoh bagi kita generasi akhir zaman.
Menjadi Asyik dan sholehah, di era kebablasan. Adalah tantangan different yang benar bukan untuk eksistensi dunia. Tapi menjadi Al ghuroba ( pembeda) yang benar di mata Allah.
Saat yang lain asyik pacaran, maka kita jadi aktivis #indonesiatanpapacaran
Saat yang lain bangga membuka aurat, maka kita bangga berhijab syar'i.
Waktu jangan dihabiskan hanya untuk menghibur diri. Seberapa menyedihkan sih hidup kita? Yuk, kita perbanyak kegiatan bermanfaat yang membuat hidup kita semakin jelas dan berarti. Seperti aktif menjadi remaja masjid dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bukan untuk ketenangan, tapi keberkahan.
Karena kehidupan hakikatnya adalah ujian, maka bukan tenang, tapi keberkahan yang kita cari saat menghadapi masalah, kita bisa menikmatinya, karena kita tau ada pahala dari keta'atan kita dalam melewati setiap ujianNya.
Masa remaja itu adalah saat kita mencari jati diri bukan hanya mencari pengakuan. Kenali diri, potensi dan bakat kita, punya planning pasti untuk mengejarnya, fokus meraih mimpi. Menjadi pemikir, mampu menjadi problem solver, berbuat baik, hingga diri menjadi berarti.
Sepakat? Semoga kita mampu menjadi generasi muskim yang tak terlena pada kesenangan hingga membuat kita lupa mencari arti diri, menjadikan diri berarti, dan mati sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar