Sabtu, 02 Desember 2017

Ketika Ia berjanji berhijrah, terima kah lamarannya?

Assalamu'alaykuuum ^.^


Hmmmm.. fotonya bikin baper ya naik sepeda tangerang - monas, 5 jam perjalanan untuk mengikuti reuni akbar 212.. :D inilah romantisnya kalau menikah dengan pasangan yang sejalan sepemikiran. Jadi ide buat saya nulis artikel ini.
Saya yang tidak seshalihah ukhti sekalian ini sebenarnya malu mau nulis yang beginian tapi gak papa yaa sekali ini. Hanya sekedar berbagi pandangan. :)
Kita sebagai perempuan yang percaya betul akan hadirnya masa kekhilafahan sesuai bisaroh Rasulullah. Tak hanya percaya tapi juga memperjuangkannya, melakukan jual beli kepada Allah dengan waktu, bahkan harta kita. Sedangkan hingga saat ini, belum banyak yang berada pada poros ini.
Munculah saat dimana kita berada pada usia siap menikah. Mulailah mereka berdatangan.. Uhukk* :D
Entah dari jalur mana saja, pernah satu sekolah, satu les, satu kegiatan, diperkenalkan keluarga, atau dari kerabat.
Bagaimana ukhti? Bagaimana kalau si ikhwan ini tidak berada pada jalan dakwah syari'ah dan khilafah? Atau bahkan bukanlah seorang aktivis islam? Terima kah lamarannya?
Apalagi kalau si ikhwan, berjanji akan berhijrah dan membersamai kita di jalan dakwah ini..
uuuuuunnnccchhh so sweet.
But, wait!
Maaf, saya tidak termasuk barisan yang berani memilih imam dari jalur yang berbeda. Dan saya termasuk yang tidak berani mempercayai janji tersebut.
Syeih Taqqiuddin Annabhani menulis pada lembar pertama bab Thoriqul Iman bahwa :
"Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia." [Nidhomul Islam, 2011]
Dan memercayai janji ikhwan semacam itu menurut saya, sangat riskan. Karena jalan hidup itu bukan hal mudah untuk di rubah, apalagi pemikiran yang kita emban sangat khas. Jadi, perlu tenaga extra untuk menyentuh pemikirannya. Atau bahkan perlu waktu cukup lama untuk membuktikannya. Bahwa Ia benar berhijrah, bahwa Ia orang yang hanif, takut meninggalkan hukum Allah. He.. permasalahannya apakah dia seniat itu? :D Tanpa komunikasi dengan kita 2-3 tahun berada dijalan dakwah ini membuktikan kesungguhan hijrahnya kepada sang Kholiq.
Kata ustadz Iwan Januar, jangan terlalu berhusnudzon kepada laki-laki. Kita memerlukan sesuatu yang pasti. Jangan hanya sibuk meladeni praduga kita.
"Eh.. apa gak papa ya kalo saya gak bisa masak?"
"Eh gak papa deh. Dia kan ikhwan yang baik." :p
Belum tentu.. bisa jadi masalah kalau praduga kita ternyata tidak benar, kan?.
Yang sangat saya takutkan adalah, apabila Ia berubah hanya karena perasaan, karena Ia menyukai kita. Aku gak bilang kalau ikhwan pembohong ya. :D tapi bisa jadi saat itu ia dibutakan perasaan, hingga ia merasa sanggup atau bahkan menganggap enteng berada dijalan dakwah ini.
Namanya saja 'Jalan Dakwah', dakwah sebagai poros kehidupan. Terutama kita harus menyesuaikan segala jadwal dengan berbagai kegiatan dakwah. Bukan memberi waktu sisa. Ini berlanjut kontinyu, istiqomah, never ending.
Bisakah? Hanya bermodal perasaan, istiqomah hingga ajal tiba?
Mungkin karena fakta-fakta yang saya temukan menjadikan saya termasuk yang tidak menginginkan pernikahan lintas harokah.
Beberapa cerita diantaranya :
Ada ikhwan yang sebelum menikah bersedia ngaji, Ia pun benar mengaji, namun sayang setelah menikah ternyata perkara sholat pun sekarang Ia mulai lalai. Naudzubillahi min dzalik. Begitu pula cerita lain, bahwa ikhwannya setelah menikah memilih hengkang dari dunia dakwah, berprilaku kasar dan tidak bertanggung jawab. Astaghfirullah.. apalagi ini, semoga kita dijauhkan dari rumahtangga yang demikian. Dan semoga Allah memudahkan urusan rumah tangga mereka. Memberikan hidayah, mengembalikan sakinnah, mawaddah, wa rahmah kepada mereka. Ada pula ikhwan lain dengan janji yang sama, namun nyatanya, setelah merasakan sendiri crowded  nya aktivitas dakwah sang istri. Padahal baru melihat saja, merasakan memiliki istri yang minimal 2-3 kali seminggu berpergian. Jangankan menepati janjinya untuk ngaji, sang istri pun tidak Ia ridhoi lagi berada pada jalan dakwah syari'ah dan khilafah. Dan selalu mengancam akan mengembalikan si istri kalau tetap bergabung pada harokah dakwah ini.
Wajar aja sih. Kembali lagi ke pemikiran, pemikiran diantara mereka kemungkinan besar belum click! Atau si ikhwannya tidak tepat janji, yah kalau pembelaan mereka sih katanya berubah fikiran.
Lha, bagaimana bisa?
Sangat bisa ukhti. Itulah kenapa dikatakan laki-laki dipegang janjinya. Karena ini adalah ujian bagi laki-laki, tidak banyak yang bisa se-gentlemen ini.
Bukan hal mudah, mengikhlaskan waktu dan pengabdian istri, untuk mengabdi kepada Allah. Manajemen waktu memang sangat penting antara suami dan istri. Agar semua kewajiban dapat terlaksana.
Tapi tetap kembali kepandangan masing-masing yaa ukhti :).. kita gak tau jodoh kita siapa, seperti apa, cobaan hidup apa yang menghadang kita didepan. Yang kita bisa adalah berusaha mendapatkan pasangan terbaik, jodoh dunia akhirat kita.
Yang sholeh tidak hanya dari harokah yang sama kan, insyaAllah. Yang terpenting memang memastikan kalau ia yang datang benar-benar sholeh, dan kita juga shalihah. Sama-sama siap untuk membina rumahtangga. Kalau akidahnya benar dan mau terikat pada hukum syara' , insyaAllah akan mudah saling mengingatkan, gak akan berani meninggalkan kewajiban. Semoga, jodoh kita adalah teman perjuangan meraih ridho Allah ya ukhti. Aamiin.
Setiap rumahtangga memiliki cobaannya masing-masing. Banyak juga yang menikah lintas harokah tapi keluarganya sakinnah. Dan pernikahan di jalan dakwah pun tak luput dari cobaan. Pernikahan sekufu, pernikahan di jalan dakwah belum tentu adem anyem saja. Sama sekali tidak!
Tapi,
lagi-lagi ini hanya maklumat pribadi saya, yah. :) Bahwa setidaknya kita sudah satu visi misi, karena berada di jalan yang sama, mengemban ideologi dan cita-cita yang sama. Sebagaimana juga yang disampaikan oleh ustadz Iwan Januar di sebuah seminar yang saya ikuti, yang kira-kira begini kesimpulan saya : tidak bisa melanjutkan memiliki anak, kalau antara suami istri ini belum menyatukan pemikiran, tidak menemukan titik temu, satu visi misi. Mendidik anak itu level yang lebih berat, ujar beliau dan sangat tertanam dalam memori saya. Mengingat, pernikahan dan mendidik anak bukan permainan. Kayak lagu nya Gita gutawa, hehe..
Suami adalah imam yang titahnya adalah hukum yang harus dita'ati. Dan sayangnya itu adalah pemikiran kebanyakan laki-laki. Sehingga dia menjadi lebih keras kepala kepada istri yang dia anggap harus 'nggeh-nggeh' saja dengan semua apa kata dia.
Padahal pemimpin disini adalah bahwa ia menanggung syurga dan neraka istri. Namun, di dunia suami-istri adalah partner, rekan tim, teman seperjuangan saling menyemangati dalam meraih ridho Allah dan saling menasihati. Jadi memilih pasangan itu, harus serius!
Menurut saya, dari pada kasih kode di sosial media kalau kita udah siap menikah. Lebih penting menyiapkan diri untuk medan pernikahan.
- Menyiapkan list pandangan-pandangan pemikiran-pemikiran yang perlu dikomunikasikan antara dua belah pihak.
- mengenali diri sendiri
Sehingga kita bisa mendeskripsikan bagaimana diri kita, kekurangan dan kelebihan kita.
- kita pun jadi ngerti pasangan seperti apa yang cocok menjadi pendamping kita.
- belajar berkomunikasi dengan baik, kalau sekarang masih sering berantem dengan mama, ayah, adek, kakak. Perbaiki itu dulu. Bagaimana menahan marah, bagaimana mengemukakan pendapat, belajar melobi, bagaimana bersabar dengan kekurangan orang lain.
- memahami kewajiban sebagai istri. Terutama mengelola keuangan. Gak bisa cuman cengengesan saat ditanya bisa masak? Bisa belanja ke pasar?
Itu sangat penting. Bayangin aja kalau kita baru belajar belanja kepasar setelah menikah. Trial n error!
Ok, kalau yang menjadi suami kita memiliki cukup uang untuk mendanai 'percobaan' kita. Tapi betapa stress nya dia saat kita gak bisa mensiasati perbelanjaan, dan jatuhnya tidak efisien bin boros. Kebeli sayur sampai busuk, salah beli, dan lain-lain.
Yang TERRRR-PENTING dari coretan loly kali ini adalah. Keep Calm, mblo!
Untuk saya sendiri, saya selalu merapalkan Akhwat jauh lebih banyak daripada ikhwan. Maka ada kemungkinan akhwat, jodohnya disyurga.
"Kalau tidak memiliki jodoh di dunia, insyaAllah Allah siapkan disyurga. Yang penting kita berusaha meraih ridho Allah.."
Kehidupan dunia hanya sebentar, kehidupan akhiratlah yang sejati.
He.. apalagi ya.. kebanyakan nyerocos nih loly :p
Harepannya kalian yang baca ninggalin jejak, saling menambahkan, agar saya yang faqiir ini bisa menambah ilmu. ^^
Maaf apabila ada beberapa cerita yang kurang berkenan silahkan hubungi saya. Akan saya hapus. Tapi apabila tidak, saya harap tulisan ini dapat bermanfaat, semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari cerita tersebut. Amiin Allohumma Aamiin. ^^~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar