Selasa, 21 November 2017

Anak-anak ku yang luar biasa [Jurnal Ibu Guru]

Assalamu"alaykum~
Alhamdulillah, Satu smester sudah saya bekerja sebagai guru di sekolah PAUD gratis di Banjarmasin. Sangat banyak pelajaran yang bisa saya ambil, terutama mencoba mengerti tugas besar seorang guru yang wajib memberikan tauladan kepada semua anak didiknya.
----
Jannah, anak yang susah mengikuti pelajaran, untuk grade dia usia 5-6 tahun dia harusnya sudah mengerti intruksi. Bukan bermain semaunya dan asyik dengan dunianya sendiri. Kadang kalau caper, nangisnya kuenceng gak jelas kenapa. Terpaksa satu guru keluar menemani dia, dan guru yang lain melanjutkan pembelajaran. Dia anak yang suka sekali memukul teman.
"Jannaaaaah.. temannya sakit di pukul" teriak gue secepat kilat menghalangi dia agar berhenti memukul temannya.
Mereka sudah tau seperti apa rasa sakit 'kan?!
"Jannah kenapa temannya dipukul?" Tanya gue saat berhasil meraihnya, mensejajarkan diri dengannya, menatap matanya.
"Dia gak nurut sama ibu guru"
"Dia gangguin si A.. si B.." jawabnya.
Yup! Dia gitu karena belain ibu guru, belain temennya.
Bayangin kalo gue saat itu, teriaknya "Jannah, nakal banget si! Temennya dipukul.." pasti gue tengsin banget ke diri gue sendiri. Dia emang gak fokus, tapi dia punya rasa sayang, dan keinginan yang tinggi untuk melindungi orang disekitarnya.
Saat itu dia diminta ibu yang lain kasi buku absen ke gue. Dan dia inisiatif sendiri ngambilin pulpen saat dia jalan menuju gue. Simple thing tapi membekas banget di gue. Dia cuman perlu difahamkan agar mau fokus dengan intruksi, tidak semaunya. Selebihnya dia anak yang luar biasa.
Orang dewasa juga banyak yang semaunya, ya gak?!
"Ngapain disitu zikri?" Dia lagi mmbuka etalase terlarang dipojok kelas yang berisi alat-alat tulis sekolah. Biasanya kalau anak udah ke situ mereka bakal ngamburin spidol, gunting, lem, dan ujung2nya gak mau tahfidz lagi.
Dan.. walla!
Dia ngambilin gue buku absen. Dilain waktu, setelah ngabsen, absen dan pulpen gue direbut dan ternyata itu karena mereka berinisiatif untuk membantu ibu guru mengembalikan buku absen. So sweet!
Dalam hati gue, untung gue gak buru2 marah!
Aku merasa dapat feedback kasih sayang dari mereka. Dengan satu syarat : ingatlah, mereka anak2.
Mereka bukan orang dewasa yang pandai berkata-kata.
Ada Rayhan, yang suka sekali bikin temennya sakit, kesenggol dia, ketendang dia, macem2 deh. Tapi dia gitu karena dia gak hati2, jangan bilang dia nakal!
Padahal sudah diingatkan, masih aja?!
Sekali lagi, dia anak kecil.. dia perlu diingatkan berkali-kali. Ngingetin mereka gak gratis juga, insyaAllah berpahala. *ngomongdikaca
Seperti air mengikis batu, membentuk habits kepribadian islam pada mereka gak mudah. Apalagi kalau background  lingkungan mereka, belum tentu sejalan.
Anak2 suka berkata-kata kotor, ya faktor lingkungan juga turut berpengaruh. Mereka belum tentu ngerti loh. Santai aja menghadapi mereka. *ngomongdikacalagi..
Tanya aja, emang mereka ngerti arti dari kata itu?
Apa mereka tau itu baik atau tidak baik?
Ini adalah saatnya mereka mulai diajak berfikir tentang yang mana yang baik dan tidak baik.
Terlalu dini bagi mereka mendapatkan punishment, judgement, itu sangat melukai mereka.
Saat membahas adab masuk WC salah satunya tidak makan didalam WC. Dan mereka mencerna
"Ayah saya ngerokok di WC.." ujar salah satu.
Yup. Bisa ditebak, mungkin setelah ini dia bakal bilang ke ayah mereka tentang adab di WC. Ada dua kemungkinan, ayahnya berhenti, atau mematahkan petuah ibu guru.
"Halah.. gak papa ngerokok di WC."
Semoga gak. Kalau bener terjadi, maka anak akan pupus kepercayaan dengan yang diajarkan pengajar. Mereka akan berkesimpulan : gak papa gak ngikutin kata guru.
Sayang banget.
Jadi yang nakal siapa?
Zikri itu usianya 4 tahun, bisa dibilang dia speechdelay, awalnya dia diem banget. Tapi apadaya, ketemu ibu macam gue yang banyak nyerocos. Hehehe.. awalnya dia sempet diejek karena ngomongnya gak jelas. Alhamdulillah sampe sekarang udah gak ada yng gitu. Dia skrg ceria banget, dan dia termasuk anak yang paling kreatif.
Dari aktivitas mewarnai, sumpah terpetakan banget karakter tiap anak. Ada yang ngewarnainya abstrak banget, kreatif tapi semau gue agak susah kerja kelompok, biasanya kelompok ini yang sedikit susah buat difokusin sama intruksi guru kecuali kita berhasil melobi mereka.
Ada yang tiap mau mewarnai bagiannya, mereka harus nanya dulu faktanya warnanya seperti apa. Mereka ini kelompok in the box, keunggulan mereka bukan dibidang mewarnai kayaknya. Haha.. liat anak-anak ini biasanya uring-uringan kalau mewarnai, bawaannya cepat menyerah kalau menemui kesulitan. Gue banget!
Tapi tenang, mereka biasanya lebih tau tujuan mereka, ke sekolah buat belajar dan punya ambisi untuk jadi yang terbaik. masih ada jutaan bidang terhampar untuk mereka tekuni. Gitu juga sama tipe anak yang mewarnai semau dia, banyak sekali keahlian yang butuh kreatifitas.
Ya. Mereka gak nakal.
Ingatlah selalu loly, fitrah mereka adalah kebaikan, mereka masih sangat muda dan belum mengerti banyak hal. Jangan hukumi mereka, jangan benci mereka, jangan lukai mereka dengan mengatai mereka nakal.
Ingatlah, banyak orang dewasa yang lebih kekanak-kanakan dari mereka. Yang lebih sulit untuk diajak berkomunikasi, yang tidak bisa mengerti, yang hanya fokus pada diri sendiri. Banyak sekali orang dewasa macam ini.
Dan yang terpenting, ingatlah..
Mereka unik, mereka punya keunggulan masing-masing. Mereka anak-anak yang luar biasa, mereka anak-anakku.
Tulisan ini cuman curhatan berdasarkan fakta realita hasil pengalaman menjadi ibu guru TK. Tidak bersifat teori.
Wassalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh.
Sampai jumpa smester depan anak-anak Ibu. :* :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar